Senin, 25 Juni 2012

*Denting Hening 6*

sumber gambar: http://fiksi.kompasiana.com
aku . . .
hanya merasa rindu yang entah pada siapa

Sabtu, 23 Juni 2012

Something About My Mind

 sumber gambar : akukha.blogspot.com/2011/04/pernahkah.html

hemph..
mulai seperti ini lagi..

saat aku menulis ini jam menunjukkan pukul 11 malam lewat
dan aku masih termenung memikirkan perasaanku sendiri
kadang aku merasa takut dengan apa yang akan kuhadapi
aku begitu takut menghadapi waktu
entah karena apa, aku tak tau..

sering aku merasa muak dengan keadaan
dan ga jarang juga aku muak dengan orang-orang disekitarku
dengan pulpen dan buku
dengan musik yang tiap hari menemaniku melewati waktu
dan sekarang aku merasa muak
entah aku muak dengan hal apa lagi..
rasanya aku mulai bosan,.
aku bosan dengan tawa, tawa ceria yang hampa
aku tak tau pasti seperti apa sebenarnya yang sedang aku rasakan
yang aku tau rasanya semua terasa sia-sia saja
aku merasa seperti membodohi diri sendiri
aku merasa seperti membohongi hati nurani
aku tak merasa adanya kehidupan..
hanya merasa lelah dengan menjalani semuanya
aku ingin menyerah, terkadang
ingin sendirian saja, menyepi, dan tak lagi bicara dengan siapapun
aku lelah, cape sekali menghadapi semuanya
muak sebenarnya,
iya, aku begitu muak dengan semua hal yang kulakukan
tapi aku tak dapat mengelak
aku butuh sesuatu untuk menutupi apa yang sedang kurasakan
mungkin aku terlihat konyol dan aneh bahkan mungkin sebagian orang merasa enggan berteman denganku
karena aku kasar, karena aku terlalu gila, karena aku begitu sulit untuk dipahami
tapi jauhh dibalik semua itu, aku merasa sendirian
dan tak pernah ada orang yang bertanya apa yang sedang aku rasakan
aku sungguh muak, muak dengan keadaan seperti ini . .

saat merasa sepi
dalam malam yang tak tenang kurasakan
22 Juni 2012 pukul 11 malam lewat

Selasa, 19 Juni 2012

Lembar Baru

gambar diambil dari : 
http://media.kompasiana.com/buku/2012/04/11/dinamika-media-politik-menggadaikan-buku/


Setelah kulalui hari-hari kelabu
Akan kurintis kembali jalanku
Terlihat setitik cahaya diarah sana
Diarah ujung kelam
yang akan segera berlalu . . .


 _sudut kamar saat sepi mulai beranjak_

Rabu, 13 Juni 2012

@My Home

Gambar diambil dari http://renalogic.com/home-hemodialysis/

Rumah..
bila ada surga di dunia maka itu adalah rumah kita sendiri
betapa tidak, disana ada keluargamu,
ada ayah dan ibu,.
kaka dan adik..
ada senyuman, tawa, dan kebahagiaan (*seharusnya)
Aku merindukan rumahku yang dulu. . .
Sungguh sebenarnya aku tak pernah meninggalkan rumah untuk jarak yang jauh dan lama, bahkan sebenarnya aku pulang setiap hari kerumah. Hanya keluar pagi untuk kuliah dan pulang sore atau malam, itupun jika ada tugas yang tak bisa selesai sampai sore.  Jujur aku bukan aktivis yang selalu menghabiskan waktu di organisasi atau lembaga-lembaga ga jelas di kampus, ataupun orang so sibuk dengan kegiatan-kegiatan yang ga penting. Aku hanya seorang mahasiswi biasa. Mungkin pak rektor bilang mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Tapi aku tak peduli, toh itu adalah hidupku. Seringnya aku tak betah di kampus, inginnya selalu pulang saja meskipun jarak antara Cicalengka-Jatinangor ga terlalu jauh.

Tapi sekarang rasanya aku ingin lebih berlama-lama diam di kampus. Bukan betah sebenarnya, hanya sedang membiasakan diri untuk menghhindari rasa tidak nyaman. Iya, aku sering merasa tak nyaman lagi di rumah. Bukan karena orang tuaku, tapi karena keadaan yang membuatku merasa seperti itu. Sekarang rasanya berbeda. Ada yang berubah disini, di tempat ini, di rumahku sendiri. . . .

Kakakku..
Dia biang keladinya, pikirku dia egois, sangat egois. Tak pernahkah dia mengingat perasaan ibu, perasaan bapakku ? Dia hanya memikirkan kebahagiaan dia sendiri. Aku tak butuh kakak yang seperti itu, sungguh aku tak butuh. . .

Senyumnya tak pernah lagi terlihat, bicarapun tak pernah. Aku terkadang muak dan ingin menendangnya, memakinya, menamparnya agar dia sadar dengan apa yang telah dilakukannya pada ibu dan bapak. Dia memang tak menganiaya mereka secara fisik. Tapi secara batin ?? Mereka terluka, terluka hebat !

Rumah ini tak seperti dulu lagi. Tak lagi bersinar seperti dulu. Tak pernah lagi kudengar tawa ceria yang ada pada keluargaku. Entahlah, rasanya semua menjadi berbeda. Ada awan mendung yang menaungi. Ibu dan Bapakku terasa lebih sering sakit-sakitan. Dan itu tak bisa membuatnya tersadar. Dia malah semakin menjadi, semakin diam, semakiin jauh dari keluarga.

Sekarang kenapa ini tak seperti rumahku. Aku tak merasa nyaman didalamnya, hanya sebuah bangunan yang diisi oleh beberapa orang saja. Kadang aku tak betah berlama-lama disini. Tapi,  aku sayang ibuku, aku sayang bapakku. Tak mungkin aku terus menerus menghindar.


semuanya terasa berbeda,.
bangunan ini menjadi sepi, sangat sepi..
entah apa yang aneh, namun ada bagian yang hilang disini..
entah apa . . . .